Wihara Satya Budhi di waktu malam. (Foto: Travel Diva/Rina Garmina)
Wihara Satya Budhi. (Foto: Travel Diva/Rina Garmina)

GELAPNYA malam dan hujan rintik-rintik tidak menghentikan niat Travel Diva mengikuti tur keliling Wihara Satya Budhi di Bandung. Waktu itu, Januari 2017. Tur keliling dipandu Pemerhati Budaya Tionghoa, Sugiri Kustedja.

Bagian dalam Wihara Satya Budhi. (Foto: Travel Diva/Rina Garmina)
Bagian dalam Wihara Satya Budhi. (Foto: Travel Diva/Rina Garmina)

Di tengah kegelapan malam dengan cahaya lampu temaram, keindahan wihara berarsitektur Tiongkok Klasik tetap dapat dinikmati. Arsitektur bergaya Tiongkok Klasik terlihat dari ornamen naga pada atap bangunan.

Atapnya yang mengombinasikan warna merah, hijau, kuning keemasan dan biru muda juga menambah kental nuansa Tiongkok Klasik. Ornamen naga ditempatkan pada atap memberi makna jika bangunan tersebut penting, yakni sebagai kuil peribadatan.

Dalam budaya Tionghoa, naga juga merupakan simbol kebaikan, keberuntungan, serta kekuasaan yang dulunya disamakan dengan kedudukan kaisar. Naga tidak hanya terlihat dari luar bangunan. Memasuki wihara, ornamen naga kembali terlihat di tempat dupa. Naga di sana mengandung makna pemberi keberuntungan kepada umat manusia sehingga patut disembah. Makhluk mitologi ini juga menyimbolkan penghalang kebakaran dan pemanggil hujan.

Wihara Satya Budhi mengadaptasi sistem konstruksi  zaman Dinasti Qing yang berkuasa saat wihara didirikan pada 1885. Selain naga, ciri khas arsitektur Tiongkok terlihat pula pada bentuk atapnya yang melengkung mengikuti konsep Chu Chia, yaitu metode meninggikan kemiringan atap.

Bangunan wihara yang bercat hijau dan biru juga sarat makna. Kombinasi 2 warna ini merepresentasikan kebijaksanaan serta ketenangan. Sementara pada bagian dalam wihara terdapat pula sejumlah arca para pendeta Taoist dan Buddha.

Wihara tertua di Kota Bandung itu satu kompleks dengan Wihara Samudra Bhakti dan Buddhagaya. Ketiganya bernaung di bawah Yayasan Satya Budhi. Saat ke Bandung, jangan lupa mampir ke Wihara Satya Budhi. Paradiva yang menyukai Chinese Food nonhalal juga dapat menemukannya di sekitar wihara.

Lokasi: Jalan Kelenteng Nomor 23 A, Bandung.

 

[adrotate banner="3"]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here