Masjid Terapung Palu
Sumber Foto: Gomuslim

NAMA SEBENARNYA adalah Masjid Arkam Babu Rahman. Namun, sejak tsunami Palu 2018 lebih dikenal dengan nama Masjid Terapung Palu. Masjid ini menjadi kawasan wisata religi yang wajib Travel Diva kunjungi saat liburan ke Palu.

Letaknya memang bukan di pusat kota. Bangunan ini berada di perairan teluk Palu yang memiliki garis pantai sepanjang 43 km. Daya tampungnya pun 200 jemaah saja. Akan tetapi, sederet keunikan menjadikannya ikon Provinsi Sulawesi Tengah.

Meski bangunannya tidak terlihat sekokoh masjid-masjid peninggalan Kolonial Belanda, siapa sangka Masjid Arkam Babu Rahman ternyata tidak roboh saat terseret tsunami pada 2018. Hal ini pula yang kemudian membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, Sulawesi Tengah, berencana menata kawasan Masjid Terapung sebagai salah satu destinasi wisata.

Keunikan lain, di malam hari kubah masjid dapat memancarkan 7 warna cahaya lampu. Mulai dari putih, pink, ungu, merah, jingga, biru hingga hijau. Pendar cahaya lampu tampak indah kala berpadu dengan warna krem dinding masjid. Pemandangan berupa laut juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Bangunan masjid memiliki 25 pilar. Pilar-pilar tersebut dapat terlihat jelas saat air laut surut. Selesai dibangun pada 2011, masjid berlokasi di pesisir Teluk Palu, dekat Pantai Talise ini usianya terbilang muda. Baru 7 tahun saat terkena badai tsunami.

Sejarah Pendirian Masjid Terapung Palu

Masjid Terapung Palu
Masjid Terapung Palu. (Foto: Travel Diva/Rina)

Kilas balik ke awal pendiriannya, Masjid Terapung Palu dibangun untuk mengenang jasa Syekh Abdullah Raqi alias Datuk Karama. Ia adalah ulama asal Minangkabau yang pertama kali menyebarkan agama Islam di Palu, Sulawesi Tengah pada abad ke-17 Masehi.

Alasan lain pendirian masjid ialah menghilangkan kemaksiatan di sekitarnya. Di sekitar Masjid Terapung Palu terdapat kafe remang-remang dan lokalisasi tempat pekerja seks komersial (PSK) menjajakan diri.

Sebelum masjid ada, anak-anak muda juga kerap berkunjung ke sana lokasi bangunan untuk pacaran atau mabuk-mabukan. Berdirinya masjid menjadikan kawasan tersebut bebas maksiat.

Di bulan Ramadan seperti sekarang, warga biasanya ngabuburit ke sana. Tidak ketinggalan, mereka berfoto dengan latar masjid.

Baca juga, 3,5 Jam Berpelesir di Palu, Sulawesi Tengah

[adrotate banner="3"]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here