Wulan Suheri saat mengunjungi Klenteng Boen Tek Bio. (Foto: Dok. Indonesia Hidden Heritage)

DIVA Traveler Wulan Suheri kerap menggunakan libur akhir pekan untuk melakukan short trip. Salah satu destinasi yang belum lama ia kunjungi adalah Tangerang. Kota ini menarik perhatiannya lantaran memiliki beberapa destinasi wisata sejarah.

Sebenarnya, apa istimewanya objek-objek wisata sejarah Tangerang di mata Co-Founder Komunitas Indonesia Hidden Heritage (IHH) yang juga berprofesi sebagai independent personal assistant (IPA) serta personal travel arrangement itu?

Berikut hasil wawancara Travel Diva dengan Wulan Suheri.

Atraksi barongsai di Klenteng Boen Tek Bio, Tangerang. (Foto: Dok. Indonesia Hidden Heritage).
Beberapa pekan lalu kamu mengunjungi Tangerang. Bisa diceritakan, spot mana saja yang kamu kunjungi selama jalan-jalan ke Tangerang?

Spot-spot yang dikunjungi selama jalan-jalan ke Tangerang adalah Stasiun Tangerang, Museum Benteng Heritage, Klenteng Boen Tek Bio, Masjid Kalipasir, Jembatan Cisadane, dan Pasar Lama Tangerang.

Berapa jam waktu yang kamu habiskan saat berpelesir di Tangerang?

Untuk wisata Tangerang, kami menghabiskan waktu 4,5 jam, di luar waktu perjalanan dari rumah ke Stasiun Tangerang. Perjalanan dimulai dari Stasiun Tangerang hingga selesai kuliner malam di Pasar Lama Tangerang.

Apa menariknya Stasiun Tangerang menurutmu?

Daya tarik stasiun yang didirikan pada 2 Januari 1889 ini terletak pada adanya bagian bangunan asli yang dipertahankan. Padahal Stasiun Tangerang pernah ditutup pada 1973–1975 dan mengalami kebakaran di tahun 2000.

Adapun bangunan asli yang masih dipertahankan hingga saat ini adalah kusen kayu dari jendela besar di dalam stasiun dan sumur tua berdiameter 5 meter yang berada di luar stasiun. Sumur ini dikenal dengan nama Sumur Gede.

Kamu juga mengunjungi Museum Benteng Heritage. Sebenarnya, apa daya tarik museum tersebut?

Bangunan museum diperkirakan dibangun pada abad ke-17. Awalnya adalah rumah orang Tionghoa. Rumah tersebut beralih fungsi menjadi museum pada 20 November 2011. Museum Benteng Heritage menyimpan berbagai barang antik dan artefak yang berkaitan dengan sejarah etnis Tionghoa di Indonesia.

Salah satu koleksi yang menarik perhatian saya adalah pintu kayu seperti yang biasa kita lihat di film-film China zaman dahulu. Pintu tersebut dikunci dengan 2 palang yang ternyata mudah ditutup, tetapi sulit dibuka.

Ternyata ada trik tersendiri untuk membuka pintu itu dan hanya orang tepercaya dalam rumah tersebut yang bisa membukanya. Konon di zaman dulu, si pemegang rahasia pembuka pintu tidak bisa pergi secara bersamaan karena pintu tak akan dapat dibuka dari luar.

Dari Museum Benteng Heritage, kamu ke Klenteng Boen Tek Bio. Apa istimewanya klenteng ini?

Klenteng yang terletak di kawasan Pecinan Pasar Lama ini merupakan klenteng tertua di Tangerang. Diperkirakan berdiri pada 1684. Saat saya ke sana menjelang sore hari, tengah ada pertunjukan barongsai untuk memeringati ulang tahun Dewi Kwan Im. Hal menarik yang terjadi saat itu adalah begitu memasuki waktu salat Magrib, pertunjukan barongsai berakhir.

Dan berganti dengan bedug, diikuti azan Magrib dari Masjid Kalipasir yang berlokasi tidak jauh dari klenteng. Ini menunjukkan adanya toleransi beragaman, yaitu rasa saling menghormati di antara masyarakat pemeluk agama Buda dan Islam yang berdomisili di sekitar klenteng dan masjid.

Setelah klenteng, kamu mampir ke Masjid Kalipasir. Seperti apa kondisi masjid tersebut saat kamu ke sana?

Masjid Kalipasir merupakan masjid tertua di kota Tangerang yang didirikan pada abas ke-16. Saat saya menyempatkan diri untuk salat di sana tampak adanya perpaduan budaya Islam dan Tionghoa pada bangunan masjid. Menara masjid mirip dengan pagoda di Tiongkok dan hiasan lain di kubah masjid bentuknya menyerupai ornamen atap bangunan di vihara.

Hal lain yang dipertahankan oleh masjid ini adalah 4 pilar di bagian dalam masjid yang hingga saat ini belum pernah diganti ataupun diperbaiki. Setelah salat Magrib, saya mencoba mengabadikan masjid ini. Dan, ternyata sangat indah. Menara masjid yang mirip pagoda terlihat indah kala diterangi cahaya bulan.

Kamu juga mengunjungi Sungai Cisadane. Dalam postingan di Facebook, IHH menyebut keindahan Cisadane tak kalah dengan Thames River. Boleh diungkapkan alasannya?

Ya, benar. Menurut saya memang Sungai Cisadane tidak kalah menarik dengan Thames River. Kedua sungai tersebut sama-sama memiliki jembatan dengan bentuk unik. Kerlap-kerlip lampu yang indah. Bahkan, menurut saya, Jembatan Barendeng atau Jembatan Cisadane jauh lebih meriah karena penuh warna-warni.

Spot terakhir yang kamu kunjungi adalah Pasar Lama Tangerang. Bisa gambarkan suasana di sana saat kamu ke sana?

Pasar ini sangat ramai pengunjung. Rata-rata pengunjung ke sana ingin menikmati kuliner di malam hari. Banyak pedagang gerobak dan warung tenda berjejer di kawasan ini, menyediakan aneka jajanan jadul hingga kekinian. Sedangkan kafe dan resto yang nyaman serta dilengkapi live music menjadi tempat hangout para pengunjung bersama keluarga atau teman mereka.

Kita tinggal pilih mau makan apa dan di mana. Kuliner malam Pasar Lama Tangerang dimulai pukul 17.00 hingga 24.00 WIB. Keramaian kawasan ini sudah terlihat sejak sore hari. Semakin malam kawasan ini menjadi semakin ramai dan padat. Kendaraan yang memaksa memasuki area ini pun terhalang oleh pengunjung yang berbondong-bondong datang. Pasar Lama Tangerang menjadi alternatif terbaik untuk menghabiskan akhir pekan di Tangerang.

Berpelesir di Tangerang ala Indonesia Hidden Heritage (IHH) hanya menghabiskan 4,5 jam. Ada saran bagi Travel Diva yang akan short getaway ke Tangerang?

Saran yang bisa saya sampaikan adalah tepat waktu, jangan sampai tertinggal kereta api tujuan ke Tangerang. Pakai sepatu yang nyaman karena perjalanan mengeksplorasi Tangerang cukup memerlukan energi sehingga kenyamanan berjalan sangat perlu diperhatikan.

Lakukan perjalanan dari siang hari sekitar pukul 15.00 WIB hingga malam hari agar spot-spot cantik dapat dikunjungi semua dan diabadikan keindahannya. Terakhir, patuhi tata tertib yang diminta pihak museum atau tempat ibadah saat berkunjung ke sana. (*)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here