Ni Wayan Melati
Berpose di depan rumah Desainer Interior Melati Danes. (Foto: Istimewa)

MENTARI memudar. Malam mulai merayap mengganti sore. Indah malam itu. Terbayang rindu berjumpa teman lama akan segera terobati.

Dari lobi hotel, tampak sebuah mobil berhenti. Itu adalah kendaraan penjemput yang akan membawa saya ke kediaman Ni Wayan Melati Blanca, pemilik studio interior Melati Danes Interior. Dari balik jendela, saya menyapa sang pengemudi.

“Bli yang akan mengantar saya ke kediaman Ibu Melati?” Tanya saya saat itu. Pria di dalam mobil mengiyakan. Saya pun segera masuk ke dalam mobil berbodi besar itu.

Dari balik langit, bulan hadir membawa cahaya. Seolah mengiringi keberangkatan kami ke tempat tinggal Melati di Jalan Hayam Wuruk. Dari kaca mobil, saya bisa melihat bintang bertabur dengan kilat memesona. Indah malam itu. Sampai-sampai saya tidak peduli dengan kemacetan yang sempat menyapa di sepertiga perjalanan.

Saat musik mengalun syahdu, pikiran saya berkelana. Membayangkan pertemuan dengan teman lama. Sebuah pertanyaan juga menyeruak dalam hati. Seperti apa gerangan kediaman desainer interior asal Bali itu.

Saking asiknya berimajinasi, tidak terasa kami sudah tiba di tujuan. Total waktu perjalanan malam itu adalah 1,5 jam. Gaya arsitektur bernapaskan alam dan budaya terasa begitu tiba di kediamannya. Melati adalah desainer interior yang karyanya kerap terinspirasi dari tradisi dan budaya Bali.

Profil Ni Wayan Melati

Saat saya tiba, Melati sudah menunggu di dalam rumah. Kolom kayu besar seketika mencuri perhatian saya. Furnitur kayu mendominasi ruangan. Serat kayu tergambar kuat pada deretan furnitur di dalam rumah.

Ruang keluarga seolah menyatu dengan ruang makan dan dapur. Tiada dinding pembatas di sana. Lukisan menjadi salah satu dekorasi utama di sana. Dari ruang keluarga, saya juga bisa melihat taman beralas rumput hijau nan asri dan kolam renang.

Sayang, malam sudah terlalu larut. Saya dan Melati tidak sempat berbincang lama mengenai konsep interior rumahnya. Sekitar pukul 11 malam Melati mengantar saya ke kamar di lantai atas.

Kamar Bak Hotel Bintang 5

Pemandangan dari balik jendela kamar. (Foto: Istimewa)

Material kayu mendominasi furnitur kamar tersebut. Sebuah tempat tidur kayu berukuran besar lengkap dengan matras berbalut sprei putih. Senada dengan sprei, sarung bantal dan guling pun berwarna putih.

Kamar berdesain ala hotel bintang 5 itu juga dilengkapi dengan wastafel dan kamar mandi. Tidak ada sekat antara kamar dan wastafel. Pun, tak tampak ada pintu di kamar mandi. Gaya kontemporer terpancar kuat lewat kehadiran meja konsol yang mendukung terciptanya ilusi ruang terbuka.

Dalam kamar mandi ini, semua perlengkapan mandi seperti sabun, shampoo, sikat dan pasta gigi memiliki ruang tersendiri dan tersimpan rapi. Kamar mandi di dalam kamar saya ini terlihat apik dan bersih. Betah rasanya berlama-lama membasuh diri di sana.

Usai membasuh diri, saya pun bergegas tidur. Esok masih ada seminar. Saya harus menyiapkan tenaga untuk besok. Kamar itu begitu senyap. Cocok untuk beristirahat. Malam itu saya tidur nyenyak. Terbangun kala alarm berbunyi di pukul 4 pagi.

Saya bangkit dari tempat tidur. Sempat mengintip sebentar ke balik jendela besar di sisi kamar, saya langsung terpesona. Meski gelap, aura asri dan natural pemandangan dari balik jendela kamar sudah terasa. Imajinasi pun bermain. Membayangkan indahnya melihat matahari pagi keluar dari peraduan dari balik jendela kamar. Tidak sabar rasanya ingin segera disambangi sang mentari pagi.

Bagi saya yang tiba di kediaman Melati pada malam hari, pagi hari menjadi waktu terbaik menikmati pemandangan di luar kamar. Tatkala pagi mulai datang, lansekap bertabur elemen alami terlihat indah dari balik jendela. Pepohonan hijau nan asri begitu sejuk. Ingin rasanya berjalanan di sana untuk merasakan terpaan angin nan sejuk serta mendengar suara daun tertampar angin.

Menikmati Sunrise

Kediaman Melati teramat dekat dengan Pantai Padang Galak. Pagi itu, Melati mengajak saya berburu matahari terbit di pantai. Mengenakan sandal jepit, kami pun berjalan kaki ke pantai. Meski waktu tempuhnya hanya 15 menit, Melati mengajak saya bergegas. Sebab, kami sudah kesiangan saat itu. Jika terlalu lama di jalan, bisa-bisa kami tidak dapat menikmati indahnya pendar cahaya matahari terbit.

Untung saja kami sempat menikmati sunrise dan mengabadikannya dalam foto. Semula, kami berencana membasuh diri di muara sungai. Tingginya ombak pagi itu membuat kami mengurungkan niat. Akhirnya kami hanya bermain air di tepi pantai.

Usai bermain air, kami kembali ke kediaman Melati. Setibanya di rumah, kami sarapan roti Jerman lengkap dengan aneka selai, semangkuk bubur kacang hijau dan aneka buah di taman. Dari taman itulah saya tersadar ternyata di area belakang kediaman Melati juga terdapat sebuah pura yang dibangun Melati dan suaminya, arsitek ternama Popo Danes.

Hunian milik Melati dan suaminya itu begitu menawan. Sayang, saya harus segera kembali ke hotel untuk mengikuti seminar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here