Masjid Agung Demak.
Masjid Agung Demak. (Kredit foto: pariwisata.demakkab.go.id)

TRAVELING ke Bali melalui jalur darat menjadi salah satu liburan favorit saya saat duduk di bangku sekolah menengah pertama dan atas. Ayah yang berjiwa petualang dan gemar berkendara amat senang mengajak Travel Diva dan anggota keluarga lainnya liburan ke Bali menggunakan mobil dari Semarang atau Cirebon.

Perjalanan menggunakan kendaraan pribadi memungkinkan kami mengunjungi hampir semua objek wisata di setiap kota yang dilalui. Biasanya perjalanan berlangsung dua sampai tiga hari. Selain objek wisata, ayah juga selalu berhenti sejenak di masjid terdekat untuk menjalankan ibadah salah. Salah satu masjid yang selalu kami kunjungi adalah Masjid Agung Demak.

Saat mengunjungi Masjid Agung Demak inilah Travel Diva dapat menyaksikan sendiri bahwa masjid ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi dan sejarah. Enam kali mampir ke Masjid Agung Demak, suasananya selalu sama.

Masjid ini bukan hanya didatangi pengunjung untuk beribadah, namun juga berwisata. Melihat sejarahnya, Masjid Agung Demak merupakan tempat berkumpulnya Wali Songo saat menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Kota Demak memang tidak dapat dilepaskan dari sejarah masuknya Islam di Indonesia.

Di area yang sama dengan masjid, terdapat pula kompleks makam Kesultanan Demak dan museum. Pengunjung ada pula yang sengaja menyempatkan diri ke sana untuk berziarah ke makam Raden Patah, Pati Unus, dan Sultan Trenggono.

Pencetus didirikannya masjid ini pada abad ke-15 Masehi ialah raja pertama Kerajaan Demak, Raden Patah, dan Wali Songo. Pembangunan Masjid Agung Demak menjadi simbol berdirinya kerajaan Islam di Pulau Jawa sekaligus cikal bakal Kerajaan Glagah Wangi Bintoro di Demak.

Ciri Khas Masjid

Masjid Agung Demak memiliki beberapa ciri khas. Pertama, di sana terdapat brebagai ornamen dan gambar bulus atau kura-kura di dinding masjid. Seperti dikutip dari pariwisata.demakkab.go.id, secara filosofis bulus merepresentasikan tahun pembangunan masjid, yaitu 1401 Saka.

Bulus merupakan candra sengkala memet, yakni sandi penulisan tahun yang setiap bagian tubuhnya merupakan perlambangan suatu angka. Tas kepala bulus mengandung makna 1, empat kakinya bermakna 4, badannya menunjukkan angka 0, dan ekornya mengacu pada angka 1.

Arsitekturnya juga sarat makna. Atap berbentuk limas berundak tiga susun menyimbolkan iman, Islam dan ihsan. Maknanya ialah keterikatan iman manusia untuk bertemu Ilahi. Ada empat tiang utama setinggi 16 meter di dalam masjid. Dibuat dari tatal atau serpihan kayu sisa yang diikat. Masing-masing terletak di sebelah barat laut, barat daya, tenggara, serta timur laut.

Keempat tiang utama yang disebut Saka Tatal atau Saka Guru itu merupakan hibah dari Sunan Kalijaga, Sunan Ampel, Sunan Gunungjati dan Sunan Bonang. Sementara bagian teras ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit.

Ciri khas Masjid Agung Demak yang unik terletak pada pintunya. Pintu yang dinamai Pintu Bledheg buatan Ki Ageng Selo itu disebut-sebut mampu menahan petir. Pintu Bledheg diukir dengan gambar dua kepala naga. Gambar ini diadopsi dari prasasti Condro Sengkolo. Artinya, penanda waktu.

Ada rencana traveling dari Jakarta ke Bali menggunakan kendaraan pribadi? Masjid Agung Demak bisa menjadi destinasi wisata religi dan sejarah untuk Paradiva kunjungi. Masjid ini juga mudah dicari karena berada di pusat kota. Bersebelahan dengan Alun-Alun Kota Demak dan Kantor Bupati Demak.

Wisata religi dan sejarah di Masjid Agung Demak ini hanya membutuhkan waktu 1 sampai 1,5 jam.

Lokasi : Jl. Raya Sultan Fatah No.57, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini