Traveldiva — Denpasar kembali menegaskan posisinya sebagai destinasi global yang inklusif. Kali ini, kota di Pulau Dewata tersebut menjadi lokasi terbaru program Travel Rehearsal yang digagas oleh Emirates, maskapai pertama di dunia yang menyandang status Autism Certified Airline.
Program ini digelar di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai pada 18 Februari 2026, sebagai bagian dari komitmen jangka panjang Emirates dalam menciptakan perjalanan udara yang lebih ramah, inklusif, dan dapat diprediksi bagi individu dengan kebutuhan khusus, termasuk anak-anak neurodiverse.

Sebagai informasi, Travel Rehearsal merupakan simulasi perjalanan udara terpandu yang memungkinkan peserta mengenal seluruh proses penerbangan sebelum benar-benar bepergian. Melalui pendekatan ini, Emirates berupaya mengurangi kecemasan yang kerap muncul akibat lingkungan bandara yang padat rangsangan sensorik.
Program ini sejalan dengan inisiatif global Emirates bertajuk “Accessible Travel for All”, yang pertama kali diperkenalkan di hub maskapai tersebut di Dubai pada 2024. Sejak itu, program serupa telah diperluas ke sejumlah kota dunia, mulai dari Barcelona, Madrid, Toronto, Brisbane, hingga Manila, sebelum akhirnya hadir di Bali.
Simulasi Lengkap dari Check-in hingga Kedatangan
Dalam pelaksanaannya di Denpasar, Travel Rehearsal diikuti oleh 17 peserta, terdiri dari delapan anak dengan autisme beserta orang tua dan guru pendamping. Mereka menjalani simulasi menyeluruh yang mereplikasi setiap tahapan perjalanan udara, mulai dari kedatangan di area International Drop Zone, proses check-in, pemeriksaan keamanan, imigrasi, boarding, hingga pengalaman berada di dalam kabin pesawat.

Tidak hanya itu, peserta juga diajak memahami proses kedatangan, termasuk imigrasi, pengambilan bagasi, pemeriksaan bea cukai, sampai area penjemputan akhir. Dengan demikian, anak-anak dan keluarga dapat membangun rasa aman serta kepercayaan diri sebelum melakukan perjalanan udara yang sesungguhnya.
Menurut Country Manager Emirates Indonesia, Majid Al Falasi, pencapaian ini menandai langkah penting dalam memperluas aksesibilitas penerbangan di Indonesia. Ia menegaskan bahwa pelatihan dan kesiapan sumber daya manusia menjadi fondasi utama program tersebut. Hingga kini, lebih dari 30.000 awak kabin dan staf darat Emirates telah mengikuti pelatihan khusus terkait autisme dan sensitivitas sensorik.
Keberhasilan pelaksanaan Travel Rehearsal di Bali juga tidak terlepas dari kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Emirates menggandeng PT Angkasa Pura Indonesia, PT JAS Airport Services, otoritas imigrasi, bea cukai, karantina, Otoritas Bandara Wilayah IV, serta SLB Negeri 2 Denpasar.
Bagi paradiva, kolaborasi ini mencerminkan bagaimana ekosistem penerbangan dapat bergerak bersama untuk menghadirkan pengalaman perjalanan yang lebih manusiawi dan berempati. Tidak hanya memperkuat citra Bali sebagai destinasi dunia, inisiatif ini juga menunjukkan bahwa inklusivitas kini menjadi standar baru dalam industri aviasi global.
Edukasi Inklusivitas hingga ke Dalam Kabin
Selain di darat, Emirates juga membawa semangat inklusivitas ke dalam kabin pesawat. Melalui sistem hiburan in-flight entertainment ice, penumpang dapat mengakses film, dokumenter, dan podcast terkurasi yang mengangkat tema neurodiversitas dan inklusi sosial.

Pada April 2025, Emirates bahkan merilis film dokumenter khusus yang menggambarkan tantangan emosional penumpang neurodiverse saat bepergian, sekaligus menunjukkan bagaimana persiapan yang tepat dan staf terlatih mampu membuat perjalanan menjadi lebih nyaman dan bermakna.
Ke depan, Emirates berkomitmen untuk terus memperluas pelatihan kesadaran autisme di berbagai bandara jaringannya, termasuk di Bali. Upaya ini diharapkan dapat menetapkan standar baru dalam layanan penerbangan yang ramah bagi semua kalangan, tanpa terkecuali.











