BOGOR — Udara sejuk, jalur menanjak, hamparan hijau, dan panorama perkampungan menjadi daya tarik jalur trekking Cisadon, Sentul, Bogor. Belakangan, kawasan ini semakin ramai didatangi anak muda, termasuk generasi Z, yang ingin mencoba trekking maupun trail run tanpa harus bepergian jauh dari Jakarta.

Cisadon bahkan disebut menjadi salah satu destinasi favorit pelari Jabodetabek karena menawarkan medan yang variatif, elevasi menantang, sekaligus suasana alam yang masih asri. Lokasinya yang relatif dekat dari kawasan perkotaan membuat jalur ini mudah dijangkau untuk aktivitas luar ruang.
Namun, di balik popularitas tersebut, ada persoalan yang mengusik. Sampah masih menjadi pekerjaan rumah di jalur yang tengah naik daun itu.
Kondisi tersebut sangat disayangkan. Sebab, semakin populer sebuah destinasi alam, semakin besar pula tekanan terhadap lingkungan apabila jumlah pengunjung tidak diikuti kesadaran untuk menjaga kebersihan.

Persoalan sampah di jalur Cisadon sebenarnya bukan cerita baru. Pada Februari 2026, komunitas pelari bersama KORMI Kabupaten Bogor bahkan menggelar aksi memungut sampah di sepanjang jalur menuju Cisadon. Jalur tersebut disebut menjadi primadona trail runner dan wisatawan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas wisata alam membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi, aktivitas trekking dan trail run membuat masyarakat semakin dekat dengan alam. Namun, di sisi lain, peningkatan kunjungan juga berpotensi meninggalkan persoalan baru jika sampah tidak dibawa kembali oleh pengunjung.
Jangan sampai alam menjadi korban tren wisata
Cisadon bukan satu-satunya destinasi alam yang menghadapi persoalan sampah. Sejumlah gunung di Indonesia juga pernah menjadi sorotan karena persoalan serupa.
Sekitar April tahun ini, jalur pendakian Gunung Gede Pangrango dipenuhi sampah meski baru sekitar sepekan dibuka kembali. Video yang beredar memperlihatkan sampah, terutama kemasan makanan, berserakan di jalur pendakian. Kondisinya bahkan membuat jalur menyempit.
Sekitar akhir tahun lalu, Gunung Gede Pangrango juga sempat menjadi sorotan setelah jalur pendakian hingga kawasan Alun-alun Suryakencana dipenuhi sampah setelah periode libur panjang.
Masalah serupa muncul di Gunung Sumbing. Pada Juli 2026, video yang viral memperlihatkan sampah berserakan di Puncak Rajawali. Sampah yang terlihat antara lain tisu basah dan berbagai sampah yang ditinggalkan pendaki.
Bahkan pada Agustus 2026, sebanyak 13 pendaki Gunung Tambora kedapatan melakukan pelanggaran. Tiga orang di antaranya diketahui tidak membawa turun sampah dari bungkus makanan, sementara 10 lainnya kedapatan membawa bunga edelweis dari kawasan gunung. Mereka kemudian mendapat teguran tertulis dan larangan mendaki selama satu tahun.
Rangkaian kasus tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan sampah bukan hanya terjadi di kawasan wisata yang baru berkembang. Destinasi alam yang sudah populer pun masih menghadapi tantangan yang sama.
Karena itu, menjaga destinasi seperti Cisadon seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Pengunjung dapat memulainya dengan prinsip sederhana: apa yang dibawa naik, dibawa kembali turun.
TRACE34: Menikmati alam sambil memungut sampah
Pesan itulah yang coba dibawa PT Chandra Asri Pacific Tbk atau Chandra Asri Group melalui kegiatan TRACE34. Menjelang ulang tahun ke-34, perusahaan mengajak rekan media dan karyawan dari komunitas hobi untuk menyusuri rute Cisadon sepanjang 3,4 kilometer pada Sabtu, 12 September 2026.

Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk plogging, yakni aktivitas yang menggabungkan olahraga dengan memungut sampah. Peserta tidak hanya menikmati jalur alam dan berolahraga, tetapi juga mengumpulkan serta memilah sampah anorganik yang ditemukan sepanjang perjalanan.
Head of Corporate Communications Chandra Asri Group, Chrysanthi Tarigan, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dibuat sebagai aksi sederhana yang bisa dilakukan bersama.
“Selama 34 tahun, Chandra Asri Group telah melalui banyak perubahan dan tantangan. Namun, satu hal yang terus menjadi bagian dari perjalanan kami adalah pentingnya berjalan bersama dengan pemangku kepentingan kami,” ujar Chrysanthi.
Menurut dia, perayaan ulang tahun perusahaan tidak hanya perlu diwujudkan melalui seremoni, tetapi juga aksi yang bisa dirasakan bersama.
“Ketika banyak orang mengambil langkah yang sama, kontribusinya dapat menjadi lebih berarti,” katanya.

Head of Corporate Communications
Cisadon yang kini menjadi magnet bagi pencinta trekking dan trail run memiliki peluang besar berkembang sebagai destinasi wisata alam. Namun, popularitas itu harus berjalan beriringan dengan kesadaran menjaga lingkungan.
Sebab, destinasi wisata alam yang indah bukan hanya yang memiliki pemandangan bagus, tetapi juga yang mampu mempertahankan kebersihan dan kelestariannya. Jangan sampai ketika tren trekking dan trail run semakin besar, gunung, bukit, dan jalurnya justru berubah menjadi tempat pembuangan sampah terbuka.











